Di pesisir Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, terdapat sebuah dusun kecil bernama Kurisa. Bagi warganya—mayoritas masyarakat adat suku Bajo—laut bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup yang menyatukan ekonomi, budaya, dan relasi sosial. Di laut itulah mereka menangkap ikan, membudidayakan rumput laut, membesarkan anak, dan merawat ingatan kolektif sebagai komunitas pelaut.
Namun, dalam satu dekade terakhir, ruang hidup itu perlahan menyempit. Laut yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi bagian dari lanskap industri nikel berskala global: Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Artikel ini merangkum hasil lokakarya dan Focus Group Discussion (FGD) bersama warga Dusun Kurisa pada November 2025. Ia merekam pengalaman langsung warga—terutama perempuan—tentang bagaimana industrialisasi mengubah kehidupan mereka secara mendasar: dari kerusakan laut, hilangnya penghidupan, krisis air bersih, hingga meningkatnya gangguan kesehatan dan rasa tidak aman.
Kurisa dan Kehidupan Pesisir Suku Bajo
Dusun Kurisa berada di Desa Fatufia, salah satu desa pesisir di lingkar industri IMIP. Mayoritas warganya adalah masyarakat adat Bajo, kelompok pelaut yang secara historis hidup berpindah mengikuti laut, sebelum kemudian bermukim secara menetap di pesisir Morowali. Bersama pendatang yang telah lama tinggal, mereka membangun kehidupan berbasis laut selama puluhan tahun.
Sebelum hadirnya industri skala besar, mata pencaharian utama warga Kurisa adalah perikanan tangkap skala kecil, budidaya rumput laut, dan usaha pesisir berbasis keluarga. Perahu-perahu kecil berangkat melaut dari bibir pantai, sementara perempuan mengelola hasil tangkapan: membersihkan ikan, menjemur rumput laut, mengatur distribusi pangan, dan menopang ekonomi rumah tangga.
Bagi komunitas ini, laut memiliki makna yang jauh melampaui ekonomi. Laut adalah ruang sosial tempat warga berinteraksi, ruang budaya tempat pengetahuan diturunkan, serta ruang aman bagi perempuan dan anak-anak. Anak-anak belajar berenang dan mengenal laut sejak kecil; perempuan membangun jaringan kerja dan solidaritas melalui aktivitas pesisir.
Relasi ini membentuk identitas komunitas Bajo di Kurisa. Laut adalah rumah.
IMIP dan Perubahan Struktural Wilayah
Situasi tersebut mulai berubah sejak kehadiran Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kawasan industri ini mulai dibangun pada 2013 dan berkembang pesat sejak 2015 sebagai bagian dari proyek strategis nasional dalam agenda hilirisasi nikel. Kini, IMIP menjadi kawasan industri nikel terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di dunia.
IMIP mencakup ribuan hektar dan menampung sekitar 40 perusahaan tenant, sebagian besar terafiliasi dengan Tsingshan Group asal Tiongkok. Di dalamnya beroperasi puluhan smelter, lebih dari 20 unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara, pelabuhan industri, jalur hauling, serta lalu lintas tongkang yang beroperasi 24 jam.
Kawasan ini tidak berdiri terpisah dari pemukiman warga. Dusun Kurisa dan desa-desa pesisir lain berada sangat dekat dengan aktivitas industri, tanpa zona penyangga yang memadai. Laut yang dahulu menjadi ruang hidup warga kini menjadi jalur lalu lintas kapal industri dan lokasi pembuangan limbah panas.
Sebagai proyek strategis nasional, IMIP memperoleh berbagai kemudahan kebijakan: percepatan perizinan, perlindungan investasi, dan dukungan infrastruktur negara. Namun, kemudahan ini tidak diiringi dengan mekanisme perlindungan yang setara bagi warga sekitar.
Laut yang Berubah, Penghidupan yang Hilang
Dalam FGD, temuan paling menonjol adalah rusaknya fungsi laut sebagai sumber penghidupan utama. Warga Kurisa menyampaikan bahwa sejak beroperasinya IMIP, kondisi laut berubah drastis. Warna dan suhu air laut tidak lagi seperti sebelumnya. Hasil tangkapan ikan menurun tajam, dan wilayah tangkap tradisional tidak lagi produktif.
“Dulu kami melaut dekat saja sudah dapat ikan. Sekarang kalau mau dapat ikan harus jauh, pakai minyak puluhan liter,” ujar salah satu nelayan.
Perubahan ini bukan hal baru bagi warga. Mereka menyebut dampaknya sudah mulai dirasakan lebih dari delapan tahun lalu, namun terus memburuk. Budidaya rumput laut—yang sebelumnya menjadi sumber pendapatan penting, terutama bagi perempuan—berhenti total karena rumput laut tidak lagi tumbuh. Keramba ikan yang dahulu menjadi penopang ekonomi keluarga juga tidak bisa dipertahankan.
Sebelum industrialisasi, nelayan Kurisa dengan perahu kecil masih mampu memperoleh 1–2 boks ikan dalam sekali melaut, dengan isi sekitar 50 kilogram per boks. Ikan tersebut dijual dengan harga Rp18.000–Rp20.000 per kilogram—cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kini, kondisi itu hampir mustahil dicapai.
Peralihan Paksa Mata Pencaharian
Hilangnya penghidupan berbasis laut memaksa warga melakukan peralihan mata pencaharian secara terpaksa. Ini bukan transisi yang setara atau berkelanjutan, melainkan strategi bertahan hidup di tengah krisis.
Sebagian laki-laki beralih menjadi buruh kasar, ojek perahu, atau pekerjaan informal lain yang tidak menentu. Akses warga lokal untuk bekerja di kawasan industri IMIP sangat terbatas. Persyaratan ijazah dan administrasi menjadi hambatan utama. Mereka yang diterima umumnya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan upah Rp200.000–Rp250.000 per hari, tanpa kepastian kerja. Dalam sebulan, rata-rata hanya mendapat sekitar tujuh hari kerja.
Sebagian warga mencoba bertahan sebagai ojek perahu. Jasa ini digunakan secara tidak rutin: mengantar anak buah kapal ke kapal besar yang berlabuh, atau sesekali mengantar wisatawan memancing di sekitar tongkang bermuatan ore dan batubara. Tarif berkisar Rp50.000–Rp100.000 per perjalanan, tergantung jarak. Namun, ketidakpastian permintaan membuat pekerjaan ini tidak bisa diandalkan sebagai sumber penghidupan utama.
Kondisi ini kontras dengan situasi sebelum industrialisasi. Data BPS tahun 2015 mencatat sekitar 1.131 orang di desa ini berprofesi sebagai nelayan—menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan warga terhadap sektor perikanan.
Perempuan dan Strategi Bertahan yang Berisiko
Perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak sekaligus paling rentan. Hilangnya budidaya rumput laut dan pengolahan hasil laut membuat mereka kehilangan peran produktif yang selama ini menopang ekonomi rumah tangga.
Dalam keterbatasan pilihan, sebagian perempuan di Dusun Kurisa beralih menjadi pemulung botol bekas dan sampah plastik, terutama di sekitar kawasan industri dan jalur aktivitas pekerja. Pekerjaan ini dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga.
Namun, aktivitas ini berisiko tinggi terhadap kesehatan, dilakukan tanpa perlindungan apa pun, berpenghasilan sangat rendah, dan sering disertai intimidasi dari pihak keamanan IMIP yang melarang pengambilan botol bekas di kawasan industri. Perempuan dipaksa bertahan di ruang yang tidak aman, tanpa pengakuan dan perlindungan.
Krisis Air Bersih di Tengah Industri
Akses terhadap air bersih menjadi persoalan yang paling sering muncul dalam diskusi. Warga menyampaikan bahwa sumber air dari sumur dan sungai tidak lagi layak digunakan akibat pencemaran dan berkurangnya debit air. Banyak sumur mengering atau airnya berubah warna menjadi hitam dan kecoklatan.
Saat ini, sebagian besar rumah tangga bergantung pada air galon dan pasokan air berbayar, bahkan untuk mandi dan mencuci. Harga satu galon air mencapai Rp7.000. Dalam sebulan, satu keluarga bisa mengeluarkan hingga Rp300.000 hanya untuk air.
Pasokan air desa dengan tarif Rp50.000 per bulan tidak mampu memenuhi kebutuhan ratusan kepala keluarga. Air hanya mengalir sekitar satu jam per hari.
Beban krisis ini ditanggung terutama oleh perempuan, yang harus mengatur penggunaan air yang terbatas, menambah pengeluaran rumah tangga, dan memastikan kebutuhan air keluarga tetap terpenuhi.
Kesehatan yang Tergerus
Warga Kurisa melaporkan peningkatan gangguan kesehatan sejak aktivitas industri berlangsung intensif. Keluhan paling umum meliputi batuk, sesak napas, penyakit kulit, kelelahan, dan stres berkepanjangan.
Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena terpapar langsung kondisi lingkungan yang memburuk dan minimnya akses layanan kesehatan. Tekanan psikososial juga meningkat akibat ketidakpastian ekonomi, hilangnya ruang hidup, dan rasa tidak aman yang terus-menerus.
Data Puskesmas Bahodopi mencatat lonjakan signifikan penyakit di wilayah ini: ISPA meningkat tajam dari 28.867 kasus (2022) menjadi 55.527 kasus (2023). Penyakit kulit, diare, dan gangguan mata juga menunjukkan tren peningkatan.
Ruang Hidup yang Menyempit, Suara yang Diredam
Pemukiman Dusun Kurisa berada sangat dekat dengan aktivitas industri tanpa zona penyangga. Warga merasa tidak memiliki ruang aman untuk hidup dan membesarkan anak. Risiko lingkungan menjadi bagian dari keseharian.
Dalam diskusi, warga juga menyampaikan bahwa mekanisme pengaduan hampir tidak berfungsi. Keluhan jarang ditindaklanjuti. Dukungan pemerintah—termasuk pemerintah desa—sangat minim. Bantuan yang pernah diterima bersifat simbolik dan harus diperjuangkan melalui protes.
Situasi ini menempatkan warga sebagai kelompok terdampak tanpa kuasa untuk memengaruhi kebijakan yang menentukan hidup mereka.
Ketahanan yang Rapuh
Meski menghadapi tekanan berat, warga Kurisa tidak sepenuhnya kehilangan daya. Modal sosial masih bertahan, terutama jaringan perempuan, pengetahuan lokal, dan solidaritas komunitas. Perempuan memainkan peran sentral dalam menjaga keberlangsungan rumah tangga dan kohesi sosial.
Namun, ketahanan ini bersifat rapuh. Tanpa penguatan organisasi, dukungan struktural, dan ruang advokasi yang adil, krisis berpotensi semakin memperdalam ketimpangan dan kerentanan.
Menuju Kerja Lanjutan Berbasis Komunitas
Lokakarya dan FGD ini menjadi langkah awal untuk membangun kerja lanjutan yang berpihak pada warga. Arah ke depan mencakup penguatan organisasi komunitas adat dan warga pesisir, peningkatan kapasitas advokasi hak lingkungan dan sumber penghidupan, dokumentasi berbasis komunitas, penguatan kampanye media, serta perluasan solidaritas lintas wilayah.
Penutup
Kisah Dusun Kurisa adalah potret tentang bagaimana proyek industri berskala global dapat menggerus ruang hidup komunitas adat pesisir. Di balik narasi pembangunan dan hilirisasi, terdapat warga yang kehilangan laut, penghidupan, kesehatan, dan rasa aman.
Namun, Kurisa juga adalah kisah tentang ketahanan. Tentang perempuan Bajo yang terus bertahan, membangun solidaritas, dan menuntut hak atas ruang hidupnya. Artikel ini bukan akhir, melainkan awal dari upaya bersama untuk memastikan bahwa suara warga pesisir tidak lagi tenggelam di tengah deru industri.






Leave a Reply