Lapangan Desa Lonu, Kecamatan Bunobogu, pada Jumat pagi, 8 Mei 2026, tampak lebih ramai dari biasanya. Musik senam terdengar sejak pagi, diikuti deretan mama-mama dan kaka-kaka perempuan yang mulai memenuhi lapangan desa untuk mengikuti kegiatan senam Zumba yang diselenggarakan oleh Jaringan Jaga Deca bersama pemerintah Desa Lonu.
Kegiatan yang mengusung slogan “Perempuan Sehat, Perempuan Berdaya Juang” itu diikuti kurang lebih 75 perempuan. Tidak hanya berasal dari Desa Lonu, beberapa peserta juga datang dari desa tetangga, yakni Desa Pokobo. Bagi sebagian warga, kegiatan seperti ini menjadi pengalaman baru karena jarang ada ruang bersama yang secara khusus melibatkan perempuan desa dalam aktivitas kesehatan dan pemulihan komunitas.
Suasana kegiatan berlangsung santai dan penuh antusias. Di sela-sela senam, warga saling bercakap, tertawa, dan berkumpul bersama. Sejumlah warga bahkan berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara rutin, minimal dua minggu sekali. Mereka meyakini jika kegiatan terus berjalan, jumlah peserta akan semakin banyak karena pada pelaksanaan pertama ini masih banyak warga yang belum mengetahui adanya kegiatan tersebut.
“Kami senang sekali ada kegiatan seperti ini di desa. Biasanya mama-mama hanya sibuk di rumah atau di kebun, jadi jarang ada ruang untuk berkumpul dan menjaga kesehatan bersama-sama. Kalau bisa kegiatan seperti ini rutin dilakukan, minimal dua minggu sekali. Apalagi masih banyak warga yang belum tahu kegiatan ini, jadi kalau terus dilakukan pasti pesertanya akan semakin banyak,” ujar Nuraini, salah satu peserta senam Zumba.
Bagi Jaringan Jaga Deca, kegiatan ini memang tidak hanya dimaksudkan sebagai olahraga bersama. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari pelayanan komunitas yang selama ini coba dibangun organisasi tersebut di wilayah-wilayah pedesaan, terutama terhadap perempuan yang selama ini memikul beban berlapis dalam kehidupan sehari-hari.
Perempuan-perempuan di Desa Lonu tidak hanya menjalankan kerja domestik dalam rumah tangga, tetapi juga terlibat dalam pekerjaan kebun, menjaga sumber pangan keluarga, mengurus anak, hingga menopang kehidupan sosial di desa. Dalam situasi konflik ruang hidup, perempuan juga menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya, mulai dari ancaman hilangnya sumber air, terganggunya lahan produksi, hingga meningkatnya tekanan ekonomi keluarga.
Karena itu, kesehatan fisik dan mental perempuan menjadi bagian penting yang coba diperhatikan dalam pelayanan komunitas yang dilakukan Jaringan Jaga Deca. Sebelumnya, organisasi ini juga pernah melakukan pelayanan psikologis terhadap perempuan korban konflik agraria dan ekspansi sawit dengan menghadirkan psikolog untuk membantu proses pemulihan warga.
Ketua Jaringan Jaga Deca, Fatrisia, menjelaskan bahwa ruang-ruang pemulihan seperti ini penting dibangun di desa-desa, terutama bagi perempuan yang selama ini menjadi penyangga utama kehidupan keluarga dan komunitas.
Menurutnya, kegiatan seperti Zumba bersama bukan hanya soal olahraga, tetapi juga tentang membangun ruang kebersamaan, menjaga kesehatan, dan memperkuat solidaritas perempuan di tengah situasi sosial yang sedang dihadapi masyarakat desa.
Selain pelayanan pemulihan dan kesehatan komunitas, masyarakat Desa Lonu sendiri saat ini tengah menghadapi ancaman masuknya ekspansi perkebunan sawit di wilayah mereka. Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, salah satu perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Buol sedang melakukan proses kadastral di wilayah Desa Lonu.
Koordinator Program dan Advokasi Jaringan Jaga Deca, Ali Paganum, menjelaskan bahwa areal yang kini menjadi target perusahaan merupakan kawasan penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat desa.
Wilayah tersebut diketahui menjadi sumber mata air utama warga sekaligus kawasan produksi masyarakat yang digunakan untuk berkebun coklat, kopi, dan berbagai tanaman lainnya. Mata air dari kawasan itu juga menjadi penopang irigasi sawah masyarakat seluas kurang lebih 250 hektar.
Ia menyebut perusahaan tersebut diketahui telah mengantongi izin HGU sejak tahun 1998 dengan total luasan lebih dari 22.000 hektar. Selain itu, pada tahun 2018 perusahaan juga kembali memperoleh izin pelepasan kawasan hutan seluas kurang lebih 9.996 hektar untuk pengembangan perkebunan sawit.
Namun, sebagian wilayah yang masuk dalam izin pelepasan kawasan hutan tersebut diketahui telah lebih dahulu dikuasai dan dikelola sejak sekitar tahun 2000, bahkan diperkirakan mencapai kurang lebih 5.000 hektar di luar izin HGU yang sebelumnya dimiliki perusahaan.
Sementara itu, sekitar 700 hektar wilayah di Desa Lonu disebut menjadi target penguasaan perusahaan dari total sekitar 1.500 hektar area yang masuk dalam izin mereka di wilayah tersebut. Warga Desa Lonu sendiri menolak rencana tersebut karena dinilai akan mengancam sumber air dan ruang hidup masyarakat desa.
Bagi masyarakat Desa Lonu, ancaman terhadap kawasan itu bukan hanya persoalan hilangnya lahan, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan hidup mereka sehari-hari. Sebab sebagian besar kehidupan warga bergantung pada sumber air dan kawasan produksi yang kini terancam masuk dalam ekspansi sawit.
Di tengah situasi tersebut, kegiatan sederhana seperti senam bersama justru menjadi ruang penting bagi warga untuk tetap menjaga solidaritas dan memperkuat kebersamaan komunitas. Melalui ruang-ruang seperti itu, perempuan desa tidak hanya diajak menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga membangun kekuatan kolektif di tengah ancaman yang sedang mereka hadapi.
Ke depan, Jaringan Jaga Deca menyatakan ingin terus memperluas pelayanan komunitas di desa-desa, termasuk pelayanan kesehatan komunitas yang saat ini sedang direncanakan untuk dijalankan di sejumlah wilayah pedesaan.
Namun keterbatasan sumber daya masih menjadi tantangan dalam menjalankan program-program tersebut. Karena itu, organisasi tersebut juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, relawan, dan kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap kondisi kesehatan dan keberlangsungan hidup masyarakat desa.






Leave a Reply