Prema Rupa Resmi Diluncurkan, Menandai Tumbuhnya Gerakan Kebudayaan Generasi Muda di Buol

Buol, 24 Mei 2026 – Kolektif Prema Rupa resmi diluncurkan melalui sebuah kegiatan kebudayaan yang berlangsung di Aula Kesenian Kabupaten Buol. Mengusung tema “Prema Rupa: Bentuk Cinta Ekspresi Kebudayaan Generasi Muda”, kegiatan ini menjadi penanda hadirnya ruang kolektif yang mempertemukan seni, sastra, dan kehidupan sosial dalam satu proses kebudayaan yang hidup, partisipatif, dan berkelanjutan.

Peluncuran tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Buol, tokoh budaya, seniman, komunitas seni, pelajar, mahasiswa, serta berbagai unsur masyarakat. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Jaringan Jaga Deca bersama sejumlah organisasi, komunitas, dan individu yang memiliki perhatian terhadap pengembangan ruang ekspresi, pendidikan kritis, dan kebudayaan generasi muda di Sulawesi Tengah.

Acara diawali dengan pemutaran video pembuka yang memperkenalkan identitas dan semangat Prema Rupa sebagai ruang ekspresi, kolaborasi, dan kerja kebudayaan yang berangkat dari kehidupan masyarakat. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Wakil Bupati Buol yang menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif generasi muda dalam membangun ruang kebudayaan di daerah.

“Menurut Wakil Bupati, Kolektif Prema Rupa diharapkan tidak hanya menjadi sekadar komunitas seni biasa, tetapi mampu menjadi ruang kolaborasi yang menghadirkan nilai edukasi, penguatan identitas daerah, serta pembentukan karakter generasi muda. Melalui komunitas ini, diharapkan lahir sebuah “rumah bersama” yang inklusif bagi anak muda Buol untuk belajar, berdiskusi, bertukar gagasan, hingga menghasilkan karya seni yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga sarat pesan moral dan kritik sosial.”

Salah satu bagian utama dalam kegiatan tersebut adalah pembacaan Manifesto Kolektif Prema Rupa yang memuat arah, prinsip, dan pandangan kebudayaan yang akan menjadi landasan kerja kolektif ke depan. Manifesto Kolektif Prema Rupa menegaskan bahwa kebudayaan tidak lahir jauh dari kehidupan, melainkan tumbuh dari pengalaman sehari-hari, relasi sosial, ingatan, harapan, serta berbagai kenyataan yang hidup di tengah masyarakat.

Bagi Prema Rupa, seni dan sastra bukan sekadar medium estetika, melainkan cara untuk memahami, merasakan, membaca, dan mengartikulasikan kehidupan. Karena itu, kolektif ini hadir sebagai ruang untuk bertemu, belajar, berkarya, bertukar gagasan, membangun ekspresi, dan memperkuat hubungan antara praktik kebudayaan dengan realitas sosial masyarakat.

Dalam manifesto yang dibacakan pada malam peluncuran tersebut ditegaskan:

“Kami tidak ingin kebudayaan hanya dipertontonkan, tetapi dihidupkan bersama. Hari ini Prema Rupa diluncurkan. Dan mulai hari ini, kerja kebudayaan itu dimulai.”

Selain pembacaan manifesto, kegiatan juga diisi dengan berbagai penampilan seni berupa musik, puisi, dan monolog yang dipersembahkan oleh anggota Kolektif Prema Rupa. Berbagai pertunjukan tersebut menghadirkan tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pengalaman kemanusiaan, kegelisahan sosial, hingga harapan terhadap masa depan generasi muda. Penampilan seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi dan refleksi atas berbagai pengalaman yang hidup di tengah masyarakat.

Kegiatan ini juga diwarnai dengan partisipasi sejumlah tokoh dan seniman yang hadir. Pembacaan puisi oleh Ibu Wakil Bupati Buol dan Wakil Bupati Buol menjadi salah satu momen yang mendapat perhatian peserta. Kehadiran seniman lokal seperti Kak Eteng turut memperkaya suasana kegiatan melalui dukungan dan partisipasinya dalam rangkaian acara.

Dukungan terhadap lahirnya Prema Rupa tidak hanya datang dari peserta yang hadir secara langsung. Pada kesempatan tersebut juga diputar video dukungan dan pesan solidaritas dari berbagai individu, komunitas, organisasi, pekerja seni, dan pegiat kebudayaan dari berbagai daerah, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Sejumlah musisi dan pegiat kebudayaan turut menyampaikan dukungannya, termasuk kelompok musik Marjinal yang dikenal luas melalui kerja-kerja seni dan kebudayaan rakyat. Pesan solidaritas juga datang dari berbagai komunitas kreatif, organisasi masyarakat sipil, jaringan kebudayaan, serta individu yang bergerak dalam bidang seni, literasi, pendidikan, dan pengorganisasian masyarakat.

Dukungan yang mengalir dari berbagai pihak menunjukkan bahwa lahirnya Prema Rupa dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas ruang ekspresi, partisipasi, dan kerja kebudayaan generasi muda. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat ekosistem kebudayaan lokal sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang.

Pada sesi akhir kegiatan, peserta dan tamu undangan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, refleksi, dan harapan terhadap perjalanan Prema Rupa ke depan. Antusiasme yang muncul menunjukkan adanya kebutuhan akan ruang bersama yang mampu menampung kreativitas, dialog, pembelajaran, dan kerja kolektif lintas generasi.

Di tengah semakin terbatasnya ruang ekspresi dan aktivitas kebudayaan yang melibatkan generasi muda secara berkelanjutan dan kurangnya minat kaum muda dalam kerja kebudayaan, kehadiran Prema Rupa menjadi upaya untuk membangun kembali ruang belajar, berkarya, dan berjejaring yang berangkat dari realitas sosial masyarakat. Karena itu, peluncuran ini tidak hanya menandai lahirnya sebuah komunitas, tetapi juga membuka kemungkinan tumbuhnya inisiatif-inisiatif kebudayaan baru di Kabupaten Buol.

Ke depan, Prema Rupa akan mengembangkan berbagai program kebudayaan yang mencakup diskusi, kelas belajar, penguatan literasi, produksi karya seni dan sastra, pendokumentasian kebudayaan lokal, riset sosial-budaya, pertunjukan seni, serta kolaborasi lintas komunitas. Seluruh kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan antara praktik kebudayaan dan kehidupan masyarakat, sehingga seni dan sastra tidak berhenti sebagai ekspresi individual, tetapi menjadi bagian dari proses memahami, merekam, dan merespons realitas sosial.

Meski demikian, keberlanjutan ruang ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi kerja kolektif para anggotanya serta dukungan dari masyarakat, komunitas, seniman, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, media, dan berbagai pihak lainnya. Tantangan terbesar ke depan adalah memastikan bahwa kerja kebudayaan tetap berakar pada kehidupan masyarakat, mampu membaca perubahan sosial, serta terus membuka ruang partisipasi yang luas bagi generasi muda.

Peluncuran Prema Rupa bukan sekadar peresmian sebuah komunitas, melainkan langkah awal untuk membangun kerja kebudayaan yang berpijak pada kehidupan masyarakat, tumbuh bersama masyarakat, dan kembali kepada masyarakat dalam bentuk gagasan, karya, pengetahuan, serta ruang refleksi bersama. Sebagaimana ditegaskan dalam manifestonya, kebudayaan tidak cukup hanya dipertontonkan, tetapi harus dihidupkan bersama. Dari titik inilah perjalanan Prema Rupa dimulai.